Posted by : Ahn Ryuzaki Saturday, 11 February 2012


Refleksi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar berupa penilaian tertulis maupun lisan (umumnya tulisan) oleh anak didik kepada guru/dosen, berisi ungkapan kesan, pesan, harapan serta kritik membangun atas pembelajaran yang diterimanya. Bahasa yang paling sederhana dan mudah dipahami adalah refleksi ini sangat mirip dengan curhatan anak didik terhadap guru/dosennya tentang hal-hal yang dialami dalam kelas sejak dimulai hingga berakhirnya pembelajaran.


mitravsiKarena melalui diary (instrumen refleksi) dapat diperoleh informasi positif tentang bagaimana cara guru/dosen meningkatkan kualitas pembelajarannya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran itu tercapai. Selain itu, melalui kegiatan ini dapat tercapai kepuasan dalam diri peserta didik yaitu memperoleh wadah yang tepat dalam menjalin komunikasi positif dengan guru/dosennya.


Jika tercapai dengan baik dan disenangi oleh peserta didik, maka guru/dosen dapat mempertahankannya, tetapi jika masih kurang diminati oleh peserta didik, maka kewajiban guru/dosen yang bersangkutan adalah segera mengubah model pembelajaran dengan memadukan metode-metode atau teknik-teknik yang sesuai berdasarkan kesimpulan dari hasil refleksi yang dilakukan sebelumnya. Sebagai tambahan, apapun hasil refleksi peserta didik seharusnya dihadapi dengan bijaksana dan positif thinking, karena tujuan akhir dari ini semua tidak lain dan tidak bukan, just for our education.


Mudah-mudahan para pembaca khususnya yang berprofesi sebagai guru/dosen mau dan mampu melengkapi  proses belajar dan mengajarnya dalam kelas dengan kegiatan "Refleksi". Selain karena karakter peserta didik masa kini yang sangat unik dan penuh warna, serta karena angin yang menerpa lebih hebat (baca: pengaruh lingkungan) dibanding  masa dahulu yang berakibat pada kecenderungan turunnya motivasi belajar  selama menjalani proses pendidikan di semua jenjang yang harus segera dihadapi dengan trik-trik yang "available" dengan dunia mereka juga untuk menjawab "sifat manja" peserta didik sebagai akibat dari efek samping "Undang-Undang Perlindungan Anak". Dalam pengertian lain, dibahasakan bahwa karakter peserta didik seperti malas, main-main, bandel, suka membolos, dan kurang aktif dalam pembelajaran atau bahkan sifat rasa ingin tahu yang sangat tinggi, tidak mau kalah, dan agresif, melalui refleksi dapat diketahui secara lebih detail. Inilah karakter guru/dosen yang sangat diidam-idamkan, yaitu mau peduli dan tahu apa yang diinginkan anak didik mereka. Lalu menindaklanjuti dengan memberikan pelayanan pendidikan yang menyenangkan, berkualitas, bervariasi, dan sesuai dengan dunia peserta didik masa kini. Sebagai kesimpulan, refleksi itu penting, tetapi menerapkannya jauh lebih penting. Chayoo pendidikan kita! Semangat!*_*

Leave a Reply

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

- Copyright © The Soft-Hearted Scholar -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -