Posted by : Ahn Ryuzaki Saturday, 12 May 2012

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, sikap mental dan karakter manusia juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Ada beberapa kekhawatiran yang dirasakan para orang tua dulu dan kini telah menjadi santapan publik, apakah itu? Mari kita renungkan uraian di bawah ini:

- Membudayakan ketidakjujuran (menyontek, menyogok, menerobos antrian, dsb)
- Rendahnya tanggung jawab individu dan warga negara (malas bayar pajak, buang sampah sembarangan, tidak menjaga fasilitas umum, dsb)
- Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. (berkata kurang sopan, suka membantah, dsb)
- Menurunnya etos kerja (datang terlambat ke sekolah, kampus, atau ke kantor, datang ke kantor baca koran dulu, main catur di ruang kerja, main game di komputer kantor, pelayanan publik yang kurang memuaskan, dsb)
- Mudah untuk diprovokasi (perusakan fasilitas umum, pemukulan, tawuran, dsb)

Disadari atau tidak, semua hal yang dinyatakan di atas ternyata sudah terjadi di Indonesia, bahkan sudah berada di tingkat yang sangat menyedihkan. Terjadinya dekadensi moral pada generasi muda adalah cerminan pada krisis karakter. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan untuk memperkuat komitmen dalam membentuk karakter generasi muda kita ini adalah suatu keharusan yang sangat mutlak segera dilakukan. 

Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak dini. Tentu saja sejak usia dini merupakan masa yang sangat menentukan bagi pembentukan karakter seseorang. Para pakar menyatakan kegagalan penanaman karakter pada seseorang sejak usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral pada generasi muda adalah usaha yang strategis karena 20 atau 30 tahun yang akan datang generasi muda inilah yang akan memegang komando negara. Oleh karena itu, penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin adalah kunci utama untuk dapat keluar dari permasalahan yang terjadi saat ini dalam kaitannya dengan masa depan bangsa kita.

Tulisan ini akan diulas lebih lengkap di postingan "Kenapa harus Pendidikan Karakter? (2)"

Leave a Reply

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Blog Archive

- Copyright © The Soft-Hearted Scholar -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -